Tentang Saya

Saya Adrian.

Teman-teman terdekat juga mengenal saya dengan panggilan Benn (iya, dituliskan dengan 2 N).

Saya + sebuah nama” tentu tidak cukup untuk bercerita tentang saya. Dalam interaksi sehari-hari misalnya, pada saat berkenalan atau dikenalkan dengan seseorang, nama akan selalu diikuti dengan serentetan kalimat lain sebagai identitas bergantung pada situasi dan kondisinya.

Sepengamatan saya, identitas tambahan yang paling sering diucapkan adalah mencari kekerabatan atau relasi terdekat dengan lawan bicara. “Saya + sebuah nama, putranya/putrinya/kakak/adik/temennya + nama kedua“, supaya menjadi lebih tidak asing dengan lawan bicara. Dalam konteks tulisan blog ini, sulit untuk menyebutkannya karena saya juga tidak tahu siapa Anda yang sedang membaca.

Identitas tambahan selanjutnya bisa berupa identitas keturunan, tempat tinggal, atau tempat asal, untuk mencari akar yang sama. Saya orang Jawa, saya orang Maluku (dan memiliki nama marga Maluku), saya orang Sunda, saya menghabiskan masa kecil di berbagai kota (Purwokerto, Fak-Fak, Jayapura, Banjarmasin, Bandung, Semarang). Jawaban pertanyaan “asalnya dari mana” itu biasanya agak panjang. Jauh lebih mudah menyatakan bahwa “saya orang Indonesia“.

 

Apa lagi setelah itu? Mungkin, identitas aktivitas dan tempat kita dalam masyarakat. Saya jadi bertanya-tanya. Apa yang membuat seseorang berhak menyandang sebuah identitas tertentu? Katakanlah, “Saya sarjana“, itu bisa dibuktikan dengan selembar kertas yang membutuhkan proses sistematis dan terukur untuk mendapatkannya. Bagaimana jika “Saya penulis“? Tulisan seperti apa yang bisa memberi seseorang hak mendapatkan identitas tersebut? Sebuah tulisan yang diterbitkan seperti buku tentu cukup valid. Bagaimana jika hanya tulisan pada blog pribadi atau media sosial? Atau memang harus sesuatu yang bisa dinilai dengan (dan menghasilkan) uang?

Ah, maaf melantur. Kembali pada topik.

Saya beraktivitas dalam bidang musik. Saya bermusik dengan dua cara. Yang pertama adalah bernyanyi dalam paduan suara, yang sudah saya lakukan sejak tahun 2000 hingga sekarang. Yang kedua adalah mendesain musik  dan berbagai aspek bunyi lainnya untuk kepentingan media interaktif, untuk yang ini saya lebih suka memperkenalkan diri sebagai Sound Designer, profesi yang saya jalani sejak tahun 2010.

Saya Game Designer. Ini hal baru bagi saya, dengan hasil pertamanya berjudul Celestian Tales: Old North yang rilis pada bulan Agustus 2015 lalu. Mengapa bisa menjadi Game Designer, tentu saja karena saya memang senang bermain game. Tidak ada batasan preferensi genre atau platform tertentu, baik digital maupun boardgame.

Ada sejumlah aktivitas minor lainnya yang sempat (dan masih) saya jalani, namun tidak signifikan untuk disebut di sini.

 

Satu hal yang bisa dikatakan dengan yakin adalah, saya memperhatikan dan menikmati banyak hal. Saya penikmat musik, penikmat film, penikmat buku, penikmat foto, penikmat lukisan, penikmat keindahan alam, penikmat keindahan kota, dan banyak hal lainnya. Tidak ada batasan preferensi tertentu. Tidak perlu dipertanyakan, bahwa saya adalah penikmat bisa jadi merupakan fakta yang paling sah dari daftar identitas pada tulisan ini, meskipun tidak ada hasil konkret dan validasi dari menikmati.

 

Salam kenal.